Siang-siang, iseng aja sih bikin beginian :D
Pertama, bikin kepala sama pundaknya dulu..
Trus, tangan kanannya...
Baru ku sempat membuka buku merah ini lagi setelah tenggelam dalam kesibukan sekolahku.
Ku buka acak buku itu dan menemukan halaman tengah, tertanggal....
16 maret 2014
Tak terhitung berapa kali matahari terbit dan tenggelam pada cakrawala yang sama,
tetap saja namamu yang ada kenapa aku merindu dulu,
kau tau ? terkadang jika mengingat 5 tahun lalu itu aku tertawa tanpa kawan.
di sebuah warnet bintang, kau ingat? oh aku lupa! kau tak tau tentang cerita ini. aku sendiri yang membuat cerita merah jambu tentangmu tanpa kau tau. iya, aku mengagumimu dalam diam. dulu.
aku menyebut diriku sendiri secret admirer waktu itu :) labil dan konyol memang. yah maklum saja. itu kenangan 5 tahun yg lalu ketika aku masih menggunakan rok biru smp ku.
di warnet waktu itu aku melihat seseorang yang wajah dan kaos mirip foto di jejaring sosialmu, dan aku yakin itu kamu! kau menempati bilik warnet pas di depanku.
Tak ada salahnya mengenang masa lalu bukan?
Rabu malam, Saat yg dulu paling kita (para pemburu telor) tunggu. kenapa?
rabu malam itu menu di
math'am adalah
telur asin.
dengan persiapan awal sebelom sholat maghrib aku emang sengaja pake celana abercrombie yg full of kantong-kantong untuk menampung barang jarahan haha :Dv
abis sholat maghrib dalam keadaan masih pake mukenah langsung aja aku ngacir ke math'am buat ambil jatah telor asin. sambil lomba dapetin telor terbanyak sama si litut.
*ketemu litut* "dapet berapa fii? aku dapet dua loohh.." *ngacung-ngacungin telor*
"kamu dua? aku dapet segini..." *ngacungin 3 buah telor* "hahahaha."
Buku itu, ku temukan di suatu tempat yang jarang didatangi murid-murid di sekolahku. bentuk buku itu biasa saja. buku yg ber-cover terbuat dari kulit berwarna merah tebal itu menarik hasratku untuk membukanya. "ah lancangnya aku." tapi pikiran itu terkalahkan dengan rasa penasaranku. tapi aku berhenti melangkah. memasukkan buku merah tanpa pemilik (ya setidaknya pikirku saja) itu ke dalam tas ransel hitam merahku. lalu ku lanjutkan melangkah pulang dan menuju kamarku. tanpa menanggalkan seragam bahkan kaus kaki kubiarkan melekat dan...
5 september 2010
kau masih sama hid, masih diam. entah mengapa.
Potret Terakhir
Oleh: Tabara
malam ini langit tak lagi ku gores
tapi ku undang bintang berbincang bersamaku
meski bukan merdu yang menggema
aku tetap belajar memakna hari-hari
puisi terakhir
romantisme sebuah masa
di mana aku lebih memilih diam
dan memahami kesunyian
dengar aku bicara
jangan lagi membaca tulisanku
karena kata-kata ternyata
tak mengarti terlalu banyak
kini waktuku banyak
jadi aku bicara saja
Kamu: Siapa dia ? *katamu penasaran*
aku: dia lelaki-ku
kamu: begitu spesial kah di matamu ?
aku: sangat. sangat spesial
kamu: siapa namanya ?
aku: Rahasia
kamu: Ada berapa kata namanya ?
aku: dua
kamu: inisial namanya huruf apa ?
tidak selamanya yang ada itu benar dan yang tidak ada itu tidak benar. disinilah saatnya hati dan otak menunjukkan perannya. karena bisa saja hanya sekedar khayal :D
~^o^~
Saat itu. (entah kapan. karena latar waktu tidak digunakan dalam cerita ini).
aku melihatmu memasuki sebuah bilik gelap. kau memegang gagang pintu, berusaha membukanya. lalu kau perlahan masuk.
ah, bahkan kau tidak mengucap salam. permisi. atau bahkan sekedar mengetuk pintunya. sudahlah. terlanjur. kau sudah masuk. kau melihat sekeliling, di ruangan itu banyak tertempel lukisan wajah seseorang. kau mendekatinya dengan ribuan rasa ingin tau. kau terperanjat dan bertanya
"Siapa pemilik bilik ini ?"
Nikmatilah hari ini, karena esok kau akan merindukan hari ini