MERDEKAKAN NEGERIKU, MERDEKAKAN INDONESIAKU !!!

Karena jiwa nasionalis tidak ditunjukkan hanya  dengan lambang garuda di dada, tapi berperilaku unmoral tanpa jera.
Jiwa Nasionalisme tidak ditunjukkan dengan menaruh lambang bendera pada seragam, tapi kerap membuat onar yang membuat masyarakat geram.
Nasionalisme juga bukan ditunjukkan dengan Memberi ucapan gombal virtual belaka, tapi tak pernah peduli dengan keadaan sosial sekitarnya.
Nasionalisme tidak ditunjukkan dengan rapinya  peci tapi berujung pada nistanya bui.
Nasionalisme hanya terdapat pada jiwa jiwa yg haus akan kemerdekaan dari kebodohan, haus akan kemerdekaan dari kemiskinan dan kemerosotan moral berbangsanya.
Nasionalisme hanya milik orang orang yg mempunyai keinginan untuk terus maju.
Nasionalisme milik mereka yang tak pernah berfikir dua kali untuk kesejahteraan negara dan semua elemen yang ada didalamnya.
Nasionalisme tentu milik mereka yang berdikari demi kemajuan ibu pertiwi.

Indonesia jaya dengan kerja nyata!
Merdekakan negeriku!
Merdekakan Indonesiaku!
Dirgahayu Negeri tercintaku!

AFN - Maesan, 17 Agustus 2016.

KOPER IAIN Jember

KOPER.

Bukan 'Komunitas Perjodohan' apalagi 'Korban Perasaan.' 😁
Kami KOPER, Komunitas Perfilman.
Masih ingat betul pernah ada sekumpulan 'cecunguk' dateng di  kosan menyampaikan niatnya untuk membuat sebuah  gebrakan bersama di kampus yg selama ini aku rasa 'gitu-gitu aja' dan tanpa berpikir panjang, aku jawab dengan anggukan, tanda setuju.
Kalimat "Berjuang bareng ya rek." menjadi mantera utama untuk saling menguatkan diantara kami.
Diawal berkarya, alhamdulillah sudah dipercaya oleh sebuah lembaga pemerintahan di Jember.
Tapi perjalanan awal tidak mungkin selalu mulus sesuai yang direncanakan bukan? Tumbuhan kecil pasti dianggap remeh bahkan kerap kali terinjak-injak. Tak apa, kami sadar posisi dan tetap saling menguatkan kala itu.
Bagi mereka yg terlalu awam mengenal  KOPER, mungkin akan mengatakan jika perjuangan kami instan.
Setiap ada orang yg beranggapan seperti itu, rasanya aku pengen cerita, gimana kami pernah 'diusir' secara terang-terangan  dari sekret oleh 'orang atas'.
gimana rasanya disikut organisasi sebelah karena ketidakberpihakan kami pada mereka.
gimana pandangan sinis 'mereka' yg pada awalnya merontokan kepercayaandiri dalam berkarya kami.
gimana kami yg awalnya beranggotakan puluhan,  hanya tersisa belasan bahkan nyaris dapat di hitung dengan jari.
Tak apa, badai hanya menyisakan pohon-pohon terkuat bukan?
Sampai akhirnya tahun ajaran baru datang, banyak 'kecebong-kecebong tersesat' yg memilih bergabung bersama kita untuk berkarya bersama.  Bertambahnya anggota membuat kami kembali tersulut untuk terus berkarya, dengan semakin banyaknya otak banyak juga inovasi-inovasi yg kami lakukan.
Semakin banyak otak, semakin sulit pula kita untuk menyatukan opini bukan?
Banyak perbedaan dan perselisihan diantara kami  memang menjadi permasalahan utama, tapi kembali ke mantera awal "kita berjuang bareng ya rek." Mengabaikan perbedaan dengan terus berkarya. Keep Solid keep humble ! 😊

Kalo kalian tanya KOPER itu apa, KOPER itu Tempatnya manusia berotak fleksibel yg mempunyai hati ekor cicak dan cacat malu 👊.

Selamat petang.

Tamparan Ayahku.

Ayahku sering menamparku,
Sakit? Tidak.
Mungkin karena terlalu sering? sesering aku melakukan kesalahan.
Atau mungkin karena aku selalu tidak perduli dengan tamparannya, dulu.
Ayahku adalah pribadi disiplin dalam setiap peraturan tak tertulis yang ia buat, suka menggoda  yang sering membuat kami  selalu merasa jengkel pada level akhir, keras kepala yang membuat mamaku sering  menyerah untuk memusuhi opininya, Sederhana terbukti dengan baju sehari-harinya tak pernah lepas dari merk terkenal bertuliskan semen gresik, FLEXI, bahkan baju kampanye pun ia gunakan sehari-hari tanpa memandang gengsi.
Mungkin karena aku perempuan satu-satunya setelah  mamaku di keluarga jadi Aku merasa menjadi orang  yang paling dekat dengannya daripada 2 saudaraku yang lain. Atau aku yang hanya ge’er? Peduli apa? Dia ayahku. Aku mencintainya, dia mencintaiku.
Tibalah dimana hari penamparan itu terjadi,
Waktu itu hari minggu dimana kebiasaanku, ayah dan mama jalan pagi.
Sepulang jalan pagi kami selalu terbiasa bersantai di teras pekarangan sambil menunggu sarapan siap.
Tidak suka dengan suasana sengang, aku bertanya
“Ilham belom bangun tah yah?”
“Ndak tau ya.. biasanya habis sholat dia tidur lagi.. biarin wes capek paling kemaren abis maen bulu tangkis seharian..” ayah berkata sambil memijat betisnya.
“Oh iya yah, yayah kok udah lama gak maen badminton? Dulu kan biasanya setiap malem..”
“...” “Ya udah gak kuat.. yayah kan udah tua..”
PLAK !
Tamparan itu seperti membangunkan dari ketidaksadaranku selama ini.
Ayahku sudah tua? Aku seperti tidak bisa menerimanya.
Aku melihat rambut ayahku yang 2 tahun lalu masih aku cabut rambut putihnya satu persatu, yang ia bilang terlihat lebih tua, bisa mengurangi penampilannya.
sekarang sudah tidak mungkin dicabut satu-persatu lagi.
Aku seolah baru sadar, ayahku sudah tidak bisa menggendongku di pundaknya, tidak bisa mengangkatku dari ruang tv ke kamar tidur seperti dulu, tidak bisa membaca al-quran kantongku yang katanya tulisannya sangat kecil.
Kali ini, Tamparan ayahku bisa aku rasakan. Benar-benar bisa akau rasakan. Sakit? Tidak. Karena ia tidak pernah menggunakan tangannya untuk menamparku.

Melihat Gunung Arjuna Dengan Matamu.

“Aku mau ndaki gunung loh.”
“Gunung mana?”
“Gunung arjuno.”
“Gamau ngajak aku?”
“Nggak.”
“Aku gak bakal ngerepotin kok.. aku ikut ya? Daripada nganggur di Kosan? Aku udah lama gak keluar-keluar. Boleh ya ya ya?”
“Gak boleh.”
“Kenapa? Aku kan udah janji gak bakal ngerepotin.”
“Yang ikut 15 orang. cowok semua. Mau ikut?”
“Mau, emang kenapa?”
“Ngawur.. mau jadi apa ntar kamu?”
“Jadi jurnalis lah..”
“Haissss, udah pokoknya gausah ikut. Titik ya. Gak pake ngeyel.”
“Tapi loh aku kan cu..”
“Eeiit, gak pake ngeyel loh ya.”
“iya  ._. “

Ah, yasudahlah :)

Menulis rentetan sajak untuknya tak lantas seketika membuatnya mencintaimu.
Menyukai apa yang ia sukai tak lantas membuatnya menyukaimu.
Memperhatikan setiap delik lakunya tak lantas membuatnya memperhatikanmu.
Merasa selalu ada untuknya tak lantas membuatnya meraskan keberadaanmu.


Hanya satu hal yang perlu dan harus kau lakukan,
Cukup dengan buatlah ia mencintaimu dengan pasti.
Jika masih tidak bisa,
Kau harus cukup sadar untuk menyadari jika ia tidak menginginkanmu berada disampingnya.
Kau juga harus cukup pintar menyadari ada orang yang terbaik untuknya, Dan ia tidak memilihmu untuk itu.
Juga pasti ada orang yang terbaik untukmu, sudah tentu bukan dia.


Memaksakan apapun yang sebenarnya sama sekali tidak bisa kita paksakan hanyalah akan berujung penyiksaan bagi diri, juga hati.
Karena cinta adalah hanya tentang bagaimana kita membahagiakan orang lain dengan kebahagiaan kita.


Selamat petang sosok buram yang perlahan datang :)




 

Jember, 2 Juni 2015 (20:20 PM)

Watu Ondo, Jember.

Terletak di sebelah selatan kabupaten Jember, Desa Blater, Kec. Tempurejo, Nanggelan. Kawasan wisata ini mulai di gemari para penikmat travelling dan mulai booming di instagram dengan hashtag #watuondo.

Hashtag itu lah yang membuat kami ber-empat mempunyai rencana akhir pekan untuk mengunjunginya.

Start sabtu siang, rencana udah disusun, Fix berangkat pukul 13.00 WIB. Setelah Aris kita teror dengan berbagai macam sms seperti “Aris ayooookk” “Aris ndang budaaaallll” “Aris cepetaan kita udah nunggu di kosan Nabiiill dari tadiiii.” “Aris kalo kamu ga cepet dateng, jangan harap besok kamu masih hidup.” *sms yang terakhir Cuma fiktif!*

dan akhirnya aris membalas dengan sms yang tak kalah sadis  “Aku masih repot ada acara organisasi di wuluhan sampe jam 9 malem. Kalian di jemput pendik aja dari unmuh.” Na’as sekali. Seketika ekspresi hello kitty kami (Aku, Umi, Dianita) langsung berubah kayak kucing Garfield di lempar semen satu karung.  “KENAPA GAK BILANG DARI TADIIIII !!!” *jerit kita sambil garuk tembok* plis gausah di bayangin -_-

Baiklah, Sekitar jam 7 kita udah sampe di Basecamp Aris Di Wuluhan, karena sebelomnya udah beberapa kali kesana jadi kita langsung masuk lanjut bersih-bersih sholat de el el. Disuruh hadir ke acara yang aris ketua-i, kita nolak mentah-mentah (ceritanya kan kita ngambek parah)  Rencana kita buat bakar-bakar ikan di pantai payangan ‘gatot’ soalnya Pak komandan baru dateng acara organisasinya sekitar pukul 21.00 -_-





Nikmatilah hari ini, karena esok kau akan merindukan hari ini
Diberdayakan oleh Blogger.